PAT Bahasa Indonesia
Across
- 2. Kelompok kata yang mempunyai susunan yang tetap dan biasanya mengandung kiasan atau nasihat (contoh: "Besar pasak daripada tiang").
- 5. (….Kalimat) Susunan unsur-unsur dalam kalimat seperti Subjek (S), Predikat (P), Objek (O), dan Keterangan (K).
- 7. (Sajak): Pengulangan bunyi yang sama (pantun biasanya bersajak a-b-a-b).
- 8. Cerita lama yang mengandung unsur sejarah, biasanya mengenai kepahlawanan atau kesaktian.
- 9. Dua baris pertama pada pantun (baris 1 dan 2) yang berfungsi sebagai pengantar rima.
- 11. Cerita rekaan atau khayalan yang tidak berdasarkan kejadian nyata.
- 12. Unsur-unsur yang membangun sebuah karya sastra dari dalam, seperti tema, alur, tokoh, latar, dan amanat.
- 13. Kesatuan dalam puisi/pantun yang terdiri dari beberapa baris (biasanya 4 baris).
- 15. Kata yang digunakan untuk menjelaskan sifat atau kondisi suatu benda/orang (contoh: santun).
- 16. Jenis paragraf yang kalimat utamanya terletak di awal paragraf.
- 18. Kata yang memiliki makna berlawanan (contoh: jujur berantonim dengan pembohong).
- 20. Kalimat yang berisi hal yang benar-benar terjadi dan dapat dibuktikan kebenarannya.
Down
- 1. Kalimat yang berisi pendapat, pandangan, atau perasaan seseorang terhadap sesuatu.
- 3. Kependekan yang berupa gabungan huruf atau suku kata yang ditulis dan dilafalkan sebagai kata yang wajar (contoh: Jamnas dari Jambore Nasional).
- 4. (Semata ....) Istilah atau kiasan untuk menyebut anak tunggal (satu-satunya anak dalam keluarga).
- 6. Cerita rakyat pada zaman dahulu yang berkaitan dengan peristiwa sejarah atau asal-usul suatu tempat.
- 9. Kata yang memiliki makna yang sama atau mirip (contoh: cermat bersinonim dengan teliti).
- 10. Dua baris terakhir pada pantun (baris 3 dan 4) yang merupakan pesan utama.
- 14. (Afiks): Awalan, sisipan, atau akhiran yang ditambahkan pada kata dasar untuk membentuk kata baru (contoh: imbuhan ter- atau pe-an).
- 17. Cerita fiksi yang tokoh utamanya adalah hewan yang berperilaku seperti manusia.
- 19. (Myte): Cerita yang berkaitan dengan kepercayaan masyarakat terhadap benda gaib, dewa, atau roh halus.