TTS BMM C

1234567891011121314151617181920212223242526272829303132333435363738394041424344454647484950515253545556575859606162636465666768697071727374757677787980818283
Across
  1. 7. Penyembuhan dengan penggantian jaringan yang sama seperti asalnya
  2. 8. Tindakan untuk mengeluarkan pus dan mencegah perluasan infeksi
  3. 9. Infeksi jaringan lunak yang tidak terlokalisir
  4. 13. Otot yang menentukan arah penyebaran abses ke intraoral atau ekstraoral
  5. 14. Jalur masuk infeksi yang berasal dari pulpa menuju jaringan periapikal
  6. 16. Kelompok bakteri yang paling dominan pada infeksi odontogen
  7. 21. Otot yang mempengaruhi penyebaran infeksi lingual mandibula
  8. 22. Tindakan mempertahankan posisi fragmen setelah reposisi
  9. 24. Kematian jaringan pulpa akibat inflamasi yang berlanjut
  10. 25. Tulang rahang atas
  11. 28. Cairan yang keluar akibat peningkatan permeabilitas vaskular
  12. 29. Tulang rahang bawah
  13. 32. Luka akibat benda tajam dengan tepi rata
  14. 33. Perjalanan leukosit melalui dinding pembuluh darah ke jaringan
  15. 35. Faktor yang memengaruhi proses penyembuhan luka
  16. 36. Inflamasi periosteum akibat infeksi yang menembus korteks tulang
  17. 38. Luka tusuk yang menembus jaringan
  18. 39. Infeksi jaringan lunak yang menutupi mahkota gigi erupsi sebagian
  19. 42. Memar akibat trauma benda tumpul
  20. 45. Instrumen yang digunakan untuk membantu mengeluarkan pus
  21. 49. Bagian gigi yang paling sering mengalami fraktur
  22. 51. Tahap paling awal pada proses penyembuhan fraktur tulang
  23. 54. Jenis penyembuhan tulang dengan pembentukan kalus
  24. 58. Penghentian perdarahan pada daerah luka
  25. 59. Kemampuan mikroorganisme menimbulkan penyakit
  26. 60. Sel yang dominan pada inflamasi kronis
  27. 62. Bakteri yang banyak ditemukan pada infeksi rongga mulut
  28. 63. Penyakit sistemik yang menyebabkan osteosklerosis pembuluh darah perifer
  29. 65. Proses yang pertama kali diaktifkan setelah terjadinya fraktur
  30. 67. Reaksi lokal jaringan terhadap adanya jejas
  31. 68. Luka superfisial akibat gesekan permukaan
  32. 70. Luka robek dengan tepi tidak teratur
  33. 71. Kondisi akibat penggunaan steroid jangka panjang
  34. 75. Lepasnya gigi seluruhnya dari soket alveolar
  35. 76. Inflamasi jaringan pulpa
  36. 77. Tahap akhir penyembuhan tulang yang memulihkan sistem Havers
  37. 80. Daerah sekitar apeks akar gigi
  38. 81. Proses perbaikan jaringan dengan pembentukan jaringan ikat
  39. 82. Ruang fasia sekunder pada kelompok masticatory space
  40. 83. Inflamasi jaringan periodonsium
Down
  1. 1. Proses migrasi leukosit menuju daerah inflamasi
  2. 2. Komplikasi penyebaran infeksi yang dapat terjadi pada sinus kavernosus
  3. 3. Respon inflamasi akibat pertumbuhan bakteri patogen
  4. 4. Saluran drainase spontan dari infeksi kronis
  5. 5. Sel penghasil antibodi yang banyak ditemukan pada radang kronis
  6. 6. Tidak terdapat tanda penyembuhan pada fraktur
  7. 10. Sisa epitel yang berperan pada pembentukan kista radikular
  8. 11. Kemerahan sebagai tanda kardinal inflamasi
  9. 12. Komplikasi hematogen berupa subacute bacterial endocarditis
  10. 15. Penyebaran infeksi melalui pembuluh limfe
  11. 17. Suplai darah yang baik diperlukan untuk penyembuhan primer
  12. 18. Tindakan mengembalikan fragmen pada posisi anatomis
  13. 19. Kista inflamasi yang berasal dari sisa epitel Malassez
  14. 20. Hilangnya fungsi akibat proses inflamasi
  15. 23. Tindakan penutupan luka menggunakan benang
  16. 26. Salah satu port of entry infeksi odontogen selain pulpo-periapikal
  17. 27. Retakan email tanpa kehilangan struktur gigi
  18. 30. Penyebaran infeksi melalui aliran darah
  19. 31. Peningkatan aliran darah pada fase awal inflamasi akut
  20. 34. Peningkatan suhu pada daerah yang mengalami inflamasi
  21. 37. Jenis pulpitis yang tidak dapat kembali normal
  22. 40. Ruang fasia yang terlibat bila perforasi terjadi di atas perlekatan mylohyoid
  23. 41. Jenis abses submukosa pada mukobukal fold
  24. 43. Masuknya mikroba patogen tanpa menimbulkan penyakit
  25. 44. Jenis penyembuhan tulang tanpa pembentukan kalus
  26. 46. Sel yang berproliferasi aktif pada fase pembentukan jaringan granulasi
  27. 47. Massa jaringan granulasi kronis pada apeks gigi nonvital
  28. 48. Lapisan terluar gigi yang mengalami retakan pada crown infraction
  29. 50. Kerusakan jaringan akibat stimulus fisik, biologis, atau kimia
  30. 52. Faktor lokal yang dapat menghambat penyembuhan
  31. 53. Nyeri sebagai salah satu tanda kardinal inflamasi
  32. 55. Tindakan membuang jaringan nekrotik pada luka
  33. 56. Sel penting pada radang kronis dan proses repair
  34. 57. Pembentukan pembuluh darah baru pada proses penyembuhan fraktur
  35. 61. Kesulitan membuka mulut pada infeksi orofasial
  36. 64. Sel pembentuk tulang baru
  37. 66. Pembesaran kelenjar getah bening regional
  38. 69. Akumulasi pus di dalam rongga patologis
  39. 72. Tahap penyembuhan fraktur yang berfungsi membersihkan jaringan nekrotik
  40. 73. Ruang fasia yang terlibat bila perforasi terjadi di bawah perlekatan mylohyoid
  41. 74. Sel yang berperan membentuk cutting cone
  42. 78. Jaringan keras di bawah email yang dapat terlibat pada fraktur
  43. 79. Pembengkakan akibat akumulasi cairan